Selasa, 24 Desember 2019

Inilah Kisah Herayati, Anak Tukang Becak yang Lulus S2 dalam 10 Bulan




Inilah Kisah Herayati, Anak Tukang Becak yang Lulus S2 dalam 10 Bulan  Nama Herayati Sawitri warga Kelurahan Kotasari, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon menjadi viral karena banyak diperbincangkan masyarakat berkat keberhasilannya menjadi dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) diusianya yang masih terbilang sangat muda. Tentunya kisah tersebut membuat banyak orang kagum kepadanya.

Ayahnya, Sawiri, adalah seorang tukang becak dengan penghasilan Rp 12 - 15 ribu per harinya. Secara logika bisa kita bayangkan jangankan untuk menguliahkan, membiayai kebutuhan sehari-hari saja tidak cukup. Pekerjaan ayahnya tersebut yang hanya sebagai tukang becak di daerah Perumahan Krakatau Steel, Cilegon, Banten, bukan dijadikan alasan baginya untuk berhenti berjuang.

Walaupun mempunyai keterbatasan ekonomi, tetapi hal tersebut tidak membuatnya berputus asa dan menghentikan langkahnya untuk terus mengejar cita-citanya untuk kuliah ditempat yang telah diimpi-impikannya untuk menempuh pendidikan tinggi. Justru dengan keterbatasan tersebut Hera sapaan dari namnya, bertekad untuk benar-benar mewujudkan mimpi-mimpinya.

Tidak hanya bisa berkuliah diuniversitas impiannya saja, Hera yang merupakan anak seorang tukang becak ini, bisa melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu S2. Yang menjadi inspirasi adalah bagaimana dara asal Cilegon ini bisa lulus jenjang S2 dengan waktu yang sangat cepat dan menjadi dosen di ITB diumur yang sangat belia.

Awal Mula Meraih Prestasi
Awal Kisahnya yang menginspirasi banyak orang, ia diperbincangkan dan dikenal oleh orang-orang karena dia berhasil lulus dari ITB berpredikat cumlaude dengan IPK 3,77. Keberhasilannya tersebut berhasil membuat publik takjub, dia bisa lulus dengan predikat cumloude dengan hasil yang sangat memuaskan walaupun dia berasal dari keluarga yang kurang mampu.


Beberapa Prestasi Cemerlang yang Berhasil Diraih
Ternyata prestasinya tak hanya sampai pada jenjang S1 saja, tetapi Herayati pun dapat menorehkan prestasinya pada jenjang S2 di ITB yang membuat orang-orang kagum akan prestasinya tersebut. Jika pada umunya mahasiswa bisa menyelesaikan S2 dalam jangka 2 tahun, ia hanya bisa menyelesaikan dalam jangka waktu 10 bulan saja. Ia berhasil lulus dengan sangat memuaskan, cumlaude dengan IPK 3,8.  

Setelah ia berhasil menyelesaikan masa kuliahnya pada jenjang S2, kini ia menjadi dosen kimia dikampus dimana ia menuntut ilmu. Ia mulai menjalankan tugasnya pada September 2019.

Selain prestasi diatas dara tersebut bahkan langganan penghargaan Dean'st List enam kali berturut-turut. Dean'st List sendiri merupakan penghargaan dari Dekan FMIPA karena prestasi akademik yang baik dengan nilai rata-rata (NR) yang selalu berada di atas 3,5 sejak semester 1 tahun 2015 sampai semester 1 tahun 2017. Sedangkan Hera berhasil lulus predikat cumlaude dengan IPK 3,77 dari ITB.

Selain itu, ia juga mempunyai kesempatan untuk mengikuti program magister melalui program jalur cepat S1-S2 (fast track) dan telah menyelesaikan 12 SKS mata kuliah program magister dengan nilai rata-rata 3,75.

Tidak hanya itu saja ia juga berhasil menyelesaikan kuliahnya setelah dirinya lulus predikat Cumlaude dengan IPK 3,77 pada 2018 lalu. Bahkan, putri dari pasangan suami istri Sawiri (66) dan Durah (62) ini sempat mendapatkan IP 4,00 pada semester lima.

Prestasi lainnya yang ia peroleh adalah dimana dia juga pernah menjadi delegasi Indonesia dalam acara Asia Pasific Future Leader Conference 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Semuanya ia lalui tentunya melalui proses yang panjang. Sejak SMA, Hera mulai mengerjakan soal-soal seleksi perguruan tinggi. Bahkan, dia sempat mendapatkan beasiswa untuk belajar di bimbingan belajar sebagai persiapan seleksi perguruan tinggi, berkat dari kegigihannya tersebut.

Ketika SMA ia ikut try out SBMPTN yang ada soal ITB-nya. Ketika itu se-Banten ia berhasil mendapat peringkat keempat nilainya. Sedangkan peringkat 1-5 se-Banten mendapatkan beasiswa dari bimbingan belajar tersebut.

Perempuan yang pernah bersekolah di MAN 2 Cilegon ini rupanya masuk ke ITB melalui jalur SBMPTN. Saat pendaftaran SNMPTN ia pernah gagal diterima di ITB. Ketika mendaftar  seleksi bersama itu, dia juga mendaftar beasiswa bidik misi.


Ternyata sebelum masuk ITB Hera lebih dulu diterima di sebuah universitas negeri di Jakarta. Singkat cerita, Hera lebih memilih ITB ketimbang perguruan tinggi tersebut. Dia akhirnya bisa masuk melalui jalur SBMPTN dan menerima beasiswa bidik misi.

Selama kuliah di ITB, dia pun mengaku tak pernah kekurangan dari segi ekonomi meskipun keluarganya terbatas. Hera yakin bahwa rezeki selalu ia dapatkan semasa kuliah. Selama masa kuliah, dia mendapat bantuan dari Pemerintah Kota Cilegon, Kepala Staf Kepresidenan Indonesia dan Menko Kemaritiman.

Selain itu, untuk mendapatkan uang tambahan untuk mencukupi kebutuhannya, Hera juga bekerja paruh waktu sebagai guru privat bagi mahasiswa tingkat pertama ITB.

Semua prestasinya ia raih berkat usaha, dukungan kedua orangtua, keinginan, dan kedisiplinannya, Walaupun dari keluarga yang tidak punya, mereka selalu mendukung walaupun tidak melalui materi. Doa kedua orang tuanya yang luar biasa. Herayati berhasil membuktikan jika ia mampu menjadi salah satu lulusan terbaik ITB.

Sosok Kedua orang tuanya adalah sosok yang terus membuat Hera tetap semangat menjalani studi di ITB. Semangat itu, ujarnya, juga harus dibarengi dengan rajin beribadah dan berdoa. Ia selalu mendapatkan dukungan dari kedua orang tuanya, mereka tidak pernah mengeluh walaupun kondisi ekonomi dalam keadaan terbatas. Dari itulah Hera berusaha untuk terus berprestasi di ITB.

Kuliah di ITB Karena Terinspirasi oleh Guru SMP
Ternyata keinginannya untuk kuliah di ITB sudah dimilikinya sejak bersekolah dibangku SMP. Keinginan tersebut mucul karena ada seorang guru yang juga lulusan ITB menceritakan tentang kisahnya kuliah di ITB dan mendapatkan beasiswa full. Pada saat itulah ia mempunyai keinginan kuat dalam pikirannya untuk kualiah di ITB, ia hanya fokus untuk masuk ITB saja.  .  

Keputusannya untuk melanjutkan kuliah dijurusan kimia didasari karena pelajaran kimia adalah mata pelajaran favorit ketika SMA. Mengambil keputusan untuk kuliah di ITB juga memang tepat karena memang jurusan kimia terbaik di Indonesia adalah di ITB.

Untuk menyekolahkan anak di universitas ternama mungkin tak pernah terbayangkan oleh orang tua Herayati, Sawiri (67) dan Durah (63). Mereka sempat membayangkan biaya yang tinggi yang membuat mereka khawatir. Namun demi anaknya, mereka tak menampakkan kekhawatiran tersebut di hadapan anaknya.

Bahkan orang tuanya mendorong untuk masuk ITB, dan tidak mempermasalahkan biaya. Selain itu tetangga Herayati juga turut meyakinkan kedua orang tuanya untuk tetap menguliahkan Herayati.

Pernah Gagal Masuk ITB
Kelulusan Hera dengan predikat cumlaude dengan IPK 3,8, bukan berarti tanpa mengalami kegagalan. Hera mengaku pernah gagal masuk ITB diseleksi pertama melalui jalur undangan. Hal tersebut tidak membuat ia patah semangat. Ia mengikuti kembali seleksi berikutnya melalui tes tertulis dan lolos di Teknik Kimia.

Hera mendapatkan sejumlah beasiswa pada awal tahun kuliahnya, diantaranya dari program bidik misi dan bantuan dari Pemerintah Kota Cilegon. Tetapi beasiswa yang didapatnya terkadang masih kurang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Sementara jika ia mengandalkan kiriman dari orang tuanya juga dirasa sulit dan msutahil. Ayah Hera bekerja sebagai pengayuh becak, sedangkan ibunya hanyalah ibu rumah tangga biasa. Akhirnya ia mencari tambahan biaya, mulai dari jadi asisten dosen hingga mengajar bimbel/privat.

Setelah lulus S1 pada tahun 2018, Herayati mengaku sempat diminta datang untuk menjadi dosen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Namun ketika itu Hera baru lulus S1, jadi ia belum memungkinkan untuk menjadi dosen karena syarat menjadi seorang dosen adalah S2.

Hal ini tentu saja membuat Hera senang, menjadi dosen adalah cita-citanya sejak kecil. Hera kemudian mengisahkan setelah lulus S2, pihak Untirta akan menghubungi kembali Hera untuk menjadi dosen luar biasa di Jurusan Teknik.

Ketika kuliah ia mempunyai niat untuk menjadi dosen didaerahnya, cilegon banten. Ia ingin membanktikan diri kepada daerah yang sudah mendukungnya selama studi di ITB. Ia juga sangat senang mengajar dan meneliti.

Keberhasilannya menjadi dosen di Universitas ternama ternyata tak membuat Hera merasa berpuas diri dan juga berhenti bermimpi. Ia mempunyai mimpi baru untuk dikejar, yaitu menjadi PNS diusia muda. Ia berkeinginan menjadi dosen tetap tetapi sebagai PNS. Sambil menunggu penerimaan, ia menjadi dosen luar biasa terlebih dahulu untuk sementara waktu di teknik untuk kimia dasar.


Mendapat Paket Umroh Gratis
Setelah lulus S1 dan S2 dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan predikat cumlaude, Herayati kini mendapatkan paket umrah gratis. Paket umrah gratis tersebut diberikan oleh NRA Foundation.

Dia sangat bersyukur karena Allah SWT sudah sangat banyak memberinya rezeki dalam berbagai bentuk. Salah satunya adalah melalui umrah tersebut. Ternyata pergi ketanah suci Mekkah untuk beribadah adalah keinginan Herayati sejak lama, bahkan ia sempat mulai mengumpulkan uang untuk bisa pergi ke tanah suci Mekkah.

Berkat prestasinya yang ramai diperbincangkan tahun lalu, maka tergeraklah hati mereka yang ingin menolongnya untuk berumroh ke tanah suci. Ketika itu orang tua Hera yang berangkat umrah, sedangkan ia tak ikut. Tentunya Apresiasi positif ini diharapkannya bisa berjalan dengan baik dan lancar.

Setelah umrah, Hera masih memiliki impian lainnya. Ia ingin memberangkatkan haji orang tuanya dari hasil jerih payahnya sendiri suatu hari nanti. Founder NRA Group, Irmawati Mochtar mengatakan awalnya mengetahui kabar mengenai Herayatai dari sejumlah pemberitaan di media online.

Setelah membaca kisah perjuangan Hera, hatinya tergerak. Pihaknya akhirnya memberikan apresiasi dalam bentuk paket umrah gratis. Irmawati Mochtar mengatakan bahwa Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah SWT sudah berkehendak. Setelah mengetahui prestasi Herayati dari berita, ia menggerakkan hati untuk memberikan umrah gratis kepada anak bangsa yang berprestasi.

Ia mengaku kagum kepada Hera yang berhasil lulus S2 kurang dari satu tahun. Karena itu, apresiasi dalam bentuk pemberian paket umrah tersebut diharapkan dapat menjadi bentuk dukungan juga. Ia berharap Hera terus mencapai impiannya.

Demikianlah kisah Herayati yang berhasil menorehkan beberapa prestasi walaupun banyak keterbatasan yang ada pada keluarganya. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk terus berjuang walau apapun keadaan kita sekarang. Hendaknya keadaan yang ada tidak menjadi halangan bagi kita untuk meraih kesuksesan. Kisah ini memberikan pelajaran bagi kita untuk menembus batas dengan terus berjuang dan berdoa.

Sumber :

https://suar.grid.id/read/201799233/inilah-kisah-herayati-seorang-anak-tukang-becak-yang-berhasil-jadi-dosen-kimia-di-usia-22-tahun?page=all
https://intisari.grid.id/read/031799566/kisah-herayati-anak-tukang-becak-yang-lulus-s2-hanya-dalam-10-bulan-seperti-ini-kabarnya-sekarang?page=all
https://news.detik.com/berita/d-4638545/anak-pengayuh-becak-asal-cilegon-lulus-s2-cum-laude-di-itb


Share This
Previous Post
Next Post

Seorang Blogger yang berusaha memberikan informasi yang terbaik dan valid

1 komentar:

Berkomentarlah dengan bijak!

Bagikan Artikel ini!