Jumat, 03 Januari 2020

Terima Kasih Pak Raden!! Kenangan Manis Masa Kecil Bersama Si Unyil




Terima Kasih Pak Raden!! Kenangan Manis Masa Kecil Bersama Si Unyil - Masih ingatkah kita ketika masih kecil apa film favorit kita? Ketika itu tahun 80-an. Tidak ada TV lain selain TVRI dan tidak ada Film lain selain film favorit kita siunyil. Ketika itu berbondong-bondong anak kecil menuju beberapa rumah yang belum banyak mempunyai televisi, kumpul dirumah tersebut hanya untuk menonton televisi dengan acara yang benar-benar menjadi film favorit anak-anak waktu itu yaitu siunyil.


Kita selalu menunggu dari hari kehari untuk bisa menonton televisi, karena pada saat itu waktu penayangannya seminggu sekali. Ketika tiba saatnya untuk menonton siunyil yang ceritanya selalu menarik untuk ditonton, kita merasakan sangat senang sekali jika waktunya telah tiba. Itu yang kita rasakan ketika masa-masa kecil kita dahulu, masa kecil yang indah yang dihiasi salah satu film favorit siunyil.

Seiring dengan berjalannnya waktu film semakin berkembang, berbagai macam film kartun ataupun sinetron sudah menghiasi layar kaca, begitupula berbagai stasiun televisi mulai bermunculan. Dengan berkembangnya perfilman indonesia tersebut film siunyil sudah mulai terkikis walaupun ada televisi yang menayangkan seperti trans7. Walaupun sudah banyak kartun ataupun film yang ada tapi film siunyil mempunyai kenangan tersendiri yang menghiasi masa-masa kecil dulu.

Yang harus kita ketahui siapa yang menciptakan film tersebut? Dia adalah Drs. Suyadi alias Pak Raden, pencipta karakter Unyil sekaligus pemilik hak cipta dari boneka Unyil. Drs. Suyadi (lahir di Puger, Jember, Jawa Timur, 28 November 1932 – meninggal di Jakarta, 30 Oktober 2015 pada umur 82 tahun) adalah pencipta Si Unyil, sebuah film seri televisi Indonesia. Suyadi menciptakan Si Unyil agar terdapat acara mendidik untuk anak-anak Indonesia pada tahun 1980-an.


Sosok Pak Raden terkenal dengan aksesoris khasnya yaitu mengenakan beskap hitam, blangkon, kumis tebal palsu, serta tongkat kayu. Sejak kecil Drs. Suyadi atau yang akrab disapa Pak Raden sangat hobi dalam menggambar dengan menggunakan arang atau kapur dihalaman rumahnya. Dengan menggambar, ia merasa menemukan dunianya sehingga tak jarang tembok rumahnya juga dipenuhi dengan gambar yang dibuat oleh Suyadi atau Pak Raden.

Hobi menggambarnya kemudian mengantar pak raden masuk ke jurusan seni rupa di ITB (Institut Teknologi Bandung) pada tahun 1952. Di kampus ITB pula bakatnya dalam menggambar makin terasah dan makin mencintai dunia seni. Di kampusnya itu, ia banyak menghasilkan karya berupa buku cerita bergambar untuk anak-anak dimana ia sebagai ilustrator dan penulis ceritanya serta ia juga membuat film pendek animasi untuk anak-anak.

Ia kuliah di ITB sampai tahun 1960. Lulus dari ITB, Pak Raden atau Suyadi kemudian melanjutkan pengetahuannya tentang animasi di Perancis, ia belajar disana selama empat tahun antara tahun 1961 hingga 1965. Keahliannya dalam hal animasi makin terasah semakin membuatnya mencintai dunia seni yang kemudian kelak akan membuatnya terkenal dan namanya dikenang di Indonesia.

Kembali dari Perancis, Pak Raden atau Drs. Suyadi kemudian menjadi staf pengajar di jurusan Seni Rupa dalam seni Ilustrasi di ITB (Institut Teknologi Bandung) dari tahun 1965 hingga 1975, ia juga mengajar khusus animasi di Institut Kesenian Jakarta.


Si Unyil adalah film seri televisi Indonesia produksi PPFN yang mengudara setiap hari Minggu pagi di stasiun TVRI dimulai pada tanggal 5 April 1981 sampai 1993, Minggu pagi di stasiun RCTI dimulai pada tanggal 21 April 2002 hingga awal 2003 dan berpindah ke TPI pada medio 2003 hingga akhir 2003 setiap Minggu pukul 16.30 WIB sebelum program berita Lintas 5.

Ditujukan kepada anak-anak, film seri boneka ini menceritakan tentang seorang anak Sekolah Dasar (yang lalu akhirnya setelah bertahun-tahun lamanya bisa mencapai posisi Sekolah Menengah Pertama) bernama Unyil dan petualangannya bersama teman-temannya. Kata "Unyil" berasal dari "mungil" yang berarti "kecil".

Si Unyil telah menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari budaya populer di Indonesia, dan banyak orang tidak dapat melupakan berbagai unsur seri ini, mulai dari lagu temanya yang dimulai dengan kata-kata "Hom-pim-pah alaiyum gambreng!" sampai tokoh-tokoh seperti Pak Raden dan Pak Ogah dan kalimat seperti "Cepek dulu dong!". Saat ini boneka-boneka si Unyil telah menjadi koleksi Museum Wayang di Jakarta.

Film ini pernah dicoba diangkat lagi oleh PPFN dengan bantuan Helmy Yahya pada tahun 2001, dengan meninggalkan atribut lama dan memakai atribut baru agar sesuai dengan jamannya, akan tetapi usaha itu gagal. Pada tahun 2007, acara ini dihidupkan lagi dengan nama Laptop Si Unyil, digawangi oleh Trans7. Karakter, lagu pembuka, dan cerita tetap dipertahankan, kecuali beberapa yang diperbaharui seiring zaman.

Seperti ucapan Pak Ogah, yang dulu "Cepek dulu dong" kini jadi "Gopek dulu dong"; dan Unyil didampingi temannya membahas hal-hal pendidikan dengan laptop yang dimiliki teman si Unyil. Suyadi mencoba menjelaskan tentang perbedaan Si Unyil dengan boneka-boneka lainya. Berlandaskan budaya, Suyadi ingin anak-anak Indonesia dapat mengambil pelajaran dari cerita keseharian Si Unyil.

Tak hanya itu, ia juga ingin menyampaikan tentang program Si Unyil yang bukan hanya sekedar hiburan semata. Lebih dari itu, Si Unyil hadir untuk membahas tentang partriotisme, nasionalisme, kesehatan, alam lingkungan, pasukan bersenjata, keluarga berencana, seni dan budaya, dan banyak lainnya yang anak-anak Indonesia harus ketahui.

Kondisi pencipta siunyil ini tidak begitu baik, ia tidak sesukses film penomenalnya ini. Selama hidupnya, Pak Raden atau Drs. Suyadi terus memperjuangkan hak cipta dari boneka Si Unyil sebab, hak cipta dari Boneka tersebut dipegang oleh PPFN yang memproduksi Serial Si Unyil ketika itu namun pemegang hak cipta sebenarnya adalah Pak Raden atau Drs. Suyadi.

Mengenai hak cipta tersebut, pada 14 Desember 1995, Drs. Suyadi membuat kesepakatan penyerahan hak cipta atas nama Suyadi kepada Perusahaan Umum Produksi Film Negara (PPFN). Dalam perjanjiannya, terdapat kesepakatan kedua belah pihak mengenai hak cipta Si Unyil yang berlaku selama lima tahun terhitung sejak ditandatanganinya perjanjian tersebut.

Akan tetapi, PPFN menganggap bahwa perjanjian penyerahan hak cipta tersebut tetap pada PPFN untuk selamanya. Royalti Unyil hanya ia nikmati ketika program itu masih diproduksi, Setelah itu tidak dapat apa-apa. Sementara itu, Pak Raden menyambung hidup dengan menjadi pendongeng dan pelukis sepanjang vakumnya dari program televisi Unyil. Ini masih dilakoninya hingga tengah tahun lalu.


Menurut panitia Pak Raden Ngamen untuk Hak Cipta, Chusnato, pria berkumis itu mendongeng dari sekolah ke sekolah, festival ke festival. Sekali dongeng, ia dibayar Rp. 3,5 juta sampai Rp. 5 juta. Dalam sebulan, intensitas naik panggung bervariasi, Bisa sebulan 3 kali manggung. Pak Raden lebih banyak menghabiskan waktunya di rumahnya menghibur warga sekitar terutama anak-anak di jalan Petamburan II No, 27, Tanah Abang Jakarta Pusat.

Hingga akhir hayatnya, pak raden terus berharap agar hak cipta Tokoh Si Unyil kembali kepadanya. Pada tanggal 30 Oktober 2015 pukul 10 malam,  Pak Raden atau Drs. Suyadi menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit Pelni karena infeksi pada paru-paru sebelah kanan yang ia derita. Pak Raden wafat di usia 82 tahun. Ia dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta pada tanggal 31 Oktober 2015.

Meski kini telah menjadi hak milik Perum Produksi Film Negara (PPFN), namun Suyadi tidak bisa menikmati lama royalti yang didapatinya itu. Dari perjanjian, almarhum baru merasakan royaltinya selama setahun seperti yang dilansir pengacara (Alm) Pak Raden, R Dwiyanto Prihartono saat dihubungi indopos.co.id.

Peralihan hak cipta Si Unyil terjadi pada 22 April 2014 lalu. Di hari tersebut, PPFN langsung memberikan royalti kepada Pak Raden melalui uang cash yang ditransfer ke rekeningnya. Di rumah tempat Drs Suyadi disemayamkan, ada beban berat yang seolah menggelayuti pundak Shelvy Arifin. Beban yang membuat direktur utama PPFN (Perum Produksi Film Negara) itu merasa seperti ada utang yang belum dibayar.

Film Animasi tiga dimensi sedang digodok oleh PPFN, apalagi film tersebut belum diperlihatkan pada Pak Raden, ia mengatakan demikian ketika melayat ke rumah duka di Jalan Petamburan III pada Jumat malam. Animasi yang dimaksud adalah film Si Unyil berformat tiga dimensi.

Demikianlah sedikit kisah tentang Pak Raden yang menghiasi masa kecil kita, mudah-mudahan kita bisa mengenang beliau yang telah berjasa pada kita karena telah banyak menghibur masa kecil kita. Sehingga kita mempunyai masa kecil yang manis bersama si Unyil. Terima kasih Pak Raden!

SELAMAT JALAN PAK RADEN!
TERIMA KASIH TELAH MENGHIASI MASA KECIL KAMI!

Sumber :
-         https://id.wikipedia.org/wiki/Suyadi
-         https://id.wikipedia.org/wiki/Si_Unyil
- http://www.biografiku.com/2015/10/biografi-pak-raden-pencipta-tokoh-si-unyil.html
-         Dan berbagai macam sumber lainnya.


Share This
Previous Post
Next Post

Seorang Blogger yang berusaha memberikan informasi yang terbaik dan valid

0 Comments:

Berkomentarlah dengan bijak!

Bagikan Artikel ini!