Senin, 23 Maret 2020

Penelitian: Jahe Merah dan Jambu Biji Potensial Tangkal Corona



Jahe merah memiliki aktivitas sebagai immunomodulator, yaitu meningkatkan daya tahan tubuh manusia. Efek ini mampu mencegah sekaligus membantu pemulihan tubuh akibat virus corona.
Jahe merah merupakan varietas unggul karena memiliki kandungan senyawa aktif yang lebih tinggi dibandingkan varietas jahe lainnya. Sehingga, jahe merah banyak digunakan sebagai bahan baku obat-obatan tradisional. Rutin minum olahan jahe merah dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan menyehatkan.


Jambu biji juga memiliki kandungan senyawa cukup lengkap untuk menangkal COVID-19. Berdasarkan riset, kandungan jambu biji [daging buah merah muda] mampu mencegah atau paling tidak mengurangi virus corona. Golongan senyawa itu adalah hesperidia, rhamnetin, kaempferol, kuersetin, dan myricetin.

Peneliti Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi Institut Teknologi Bandung [ITB], memperkirakan puncak penyebaran jumlah kasus harian corona di Indonesia terjadi akhir Maret 2020. Pertengahan April, kasus ini berakhir. Diperkirakan, jumlah kasus maksimal sebanyak 8.000 kasus dengan kasus berat terbesar sekitar 600 kasus. Dalam perhitungannya, para peneliti ITB ini menggunakan Model Kurva Richard [Ricard’s Curva] dengan profil hasil penelitian tersebut diperoleh menggunakan parameter model hasil estimasi di Korea Selatan.

Beberapa pekan terakhir, harga jahe merah [Zingiber officinale var. rubrum rhizoma] mengalami kenaikan signifikan di pasaran. Di Bengkulu, harganya melambung tinggi. Biasanya, harga satu kilogram hanya 20-30 ribu Rupiah, kini 60-70 ribu Rupiah.

“Kenaikan ini karena menyebarnya virus corona, jadi banyak orang mau minum olahan jahe merah,” kata Dani, pedagang rempah di Pasar Panorama Bengkulu, Rabu [18/3/2020].

Dani mengatakan, rata-rata pembelinya percaya bahwa jahe merah mampu mencegah mereka dari serangan virus corona.

Kepala Kelompok Penelitian Center for Drug Discovery and Development, Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia [LIPI], Masteria Yunovuilsa Putra, punya jawaban terhadap informasi tersebut. Dia menegaskan, bila dikatakan khasiat jahe merah dapat menyembuhkan penderita virus corona, itu tidak benar.

“Sampai saat ini, belum ada bukti sih bila jahe merah berfungsi sebagai antivirus, terutama corona [COVID-19] itu,” kata dia kepada Mongabay Indonesia, Kamis [19/3/2020].

Jahe merah dapat membantu ringankan gejala yang ditimbulkan dari penyakit tersebut, barulah benar. Jadi, bukan membunuh virus corona.

“Jahe merah memang memiliki aktivitas sebagai immunomodulator, yaitu meningkatkan daya tahan tubuh manusia. Efek ini tentu saja mampu mencegah sekaligus membantu pemulihan tubuh akibat virus corona,” ujarnya.

Selain itu, jahe merah juga memiliki efek antiinflasi dan antioksidan. “Secara umum, gejala yang disebabkan virus corona berupa peradangan berlebihan pada paru-paru. Nah, antiinflasi dapat meredakan gejala tersebut,” lanjutnya.

Jahe merah memang kaya manfaat, sebagai bahan pengobatan dan juga rempah. Rasanya lebih pedas, dengan ukuran lebih kecil dan memiliki warna merah yang berasal dari kandungan antosianin pada kulitnya.

Jenis ini merupakan varietas unggul karena memiliki kandungan senyawa aktif yang lebih tinggi dibandingkan varietas jahe lainnya. Sehingga, jahe merah banyak digunakan sebagai bahan baku obat-obatan tradisional.

Pada jahe merah, ada senyawa yang bermanfaat untuk memelihara kesehatan, misalnya shagaol, gingrol, zingeron, capsaicin, farnesene, cineole, caprylic acid, aspartic, linolenic acid, aspartic, linolenic acid, hingga minyak atsiri.

“Rutin minum olahan jahe merah agar daya tahan tubuh sehat dan kuat, bisa dilakukan. Terlebih, virus corona saat ini sudah menjadi pandemi,” paparnya.

Mengutip halodoc, jahe merah juga mempunyai khasiat penting bagi kesehatan. Jahe merah merupakan jahe paling unggul dari jenis jahe yang tumbuh di Indonesia.

Jahe merah mengandung minyak atsiri lebih banyak, begitu pula kandungan zat oleoresin, gingerol, dan zingeron. Kandungan minyak atsirinya efektif meredakan batuk dan aman dikonsumsi siapa saja, termasuk anak-anak. Sedangkan zingeron efektif mencegah peradangan usus, bekerja aktif menghambat enzim pemicu inflamasi.

Jahe merah juga baik untuk menjaga kesehatan jantung, dengan menurunkan trigliserida dan kadar kolesterol dalam darah.

Potensi Jambu Biji

Terkait pandemi corona, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia [FKUI] bersama Institut Pertanian Bogor [IPB] telah meneliti khasiat jambu biji [guajava], sebagai kandidat potensial pencegah COVID-19.

Penelitian yang menggunakan metode bioinformatika ini memanfaatkan basis data Laboratorium Komputasi Biomedik dan Rancangan Obat Fakultas Farmasi UI. Total basis data yang digunakan sebanyak 1.377 senyawa herbal yang dipetakan dan dikonfirmasi dengan pemodelan molekuler. Tujuannya, untuk dievaluasi aktivitas antivirusnya.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam, sebagaimana dikutip dari situs Universitas Indonesia menjelaskan, jambu biji memiliki kandungan senyawa cukup lengkap untuk menangkal COVID-19.

“Berdasarkan riset, kandungan jambu biji [daging buah merah muda] mampu mencegah atau paling tidak mengurangi virus tersebut. Golongan senyawa itu adalah hesperidia, rhamnetin, kaempferol, kuersetin, dan myricetin,” tutur Ari, Senin, 16 Maret 2020.

Ari menyatakan, hasil penelitian ini telah disampaikan pada “Seminar dan Workshop Eksplorasi Bahan Herbal Kandidat Potensial Antivirus Corona: Analisis Big Data dan In Silico” di Fakultas Kedokteran UI, pada 3-5 Maret 2020. Pihaknya akan mempersiapkan hasil penelitian ini untuk publikasi internasional.

“Penelitian ini butuh riset lanjutan guna mengetahui komponen yang tepat untuk pengobatan COVID-19. Hidup bersih dan sehat seperti mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menggunakan masker bagi yang sakit, adalah perilaku utama yang harus diterapkan masyarakat saat ini,” tegasnya.

Prediksi Puncak Corona Di Indonesia

Virus corona dinyatakan pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia [WHO], sejak 11 Maret 2020. Pandemi merupakan penyebaran penyakit secara global di berbagai negara dalam waktu bersamaan.

Merujuk situs remi Pemerintah Indonesia mengenai Virus Corona [COVID-19], covid19.go.id, hingga 21 Maret 2020, virus mematikan ini telah menyerang 159 negara dengan 244.525 kasus terkonfirmasi. Korban meninggal sebanyak 10.031 jiwa dan 86.032 dinyatakan sembuh. Di Indonesia, positif corona sebanyak 450 orang, sembuh 20 orang, dan meninggal sebanyak 38 jiwa.

Peneliti Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi Institut Teknologi Bandung [ITB], Nuning Nuraini, Kamal Khairun, dan Mochamad Apri, dalam penelitiannya mengenai “Data dan Simulasi COVID-19 Dipandang dari Pendekatan Model Matematika” memperkirakan puncak penyebaran jumlah kasus harian corona di Indonesia terjadi akhir Maret 2020. Pertengahan April, kasus ini berakhir. Diperkirakan, jumlah kasus maksimal sebanyak 8.000 kasus dengan kasus berat terbesar sebanyak 600 kasus.

Dalam perhitungannya, para peneliti ITB ini menggunakan Model Kurva Richard [Ricard’s Curva] untuk mensimulasikan ekspektasi jumlah COVID-19 di Indonesia, dengan perbandingan angka jumlah pasien di Tiongkok, Italia, Iran, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

Dalam laporan yang diterbitkan 15 Maret 2020 ini ditekankan, profil hasil penelitian tersebut diperoleh dengan menggunakan parameter model hasil estimasi di Korea Selatan. Padahal, negara ini dinyatakan cukup berhasil menjalankan SOP pencegahan COVID-19.

“Bayangkan, bila langkah pencegahan tidak dilakukan serius, kasus bisa berlipat dalam puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan penderita,” jelas riset tersebut.

Nuning, sebagai peneliti utama menuliskan, pendekatan model ini masih sederhana, belum sempurna. Tetapi, pada dasarnya semua model yang ada menunjuk ke pesan yang sama. “Kami tidak tahu jumlah kasus yang sebenarnya, kasus yang terjadi jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan,” lanjutnya.

Cara terbaik mencegah adalah dengan menghindari penyebab penularan virus itu sendiri. Virus diperkirakan menyebar dari orang ke orang, melalui sentuhan kurang dari 6 kaki atau 1.82 meter, serta melalui dahak atau bersin orang yang terinfeksi.

“Cara sederhana yang diharapkan berhasil mencegah penyebaran virus adalah dengan jaga jarak sosial [social distancing]. Jarak sosial ini dapat diartikan menjauhi kerumunan, keluar rumah tanpa keperluan penting, memindah pekerjaan [work from home], dan melakukan sistem pendidikan secara daring,” tegasnya. Mongabay.co.id




Share This
Previous Post
Next Post

Seorang Blogger yang berusaha memberikan informasi yang terbaik dan valid

0 Comments:

Berkomentarlah dengan bijak!

Bagikan Artikel ini!