Minggu, 29 Maret 2020

Profil dr Tirta, Dokter Muda yang Jadi Relawan Hadapi Virus Corona di Indonesia



Pandemi virus corona hingga kini masih menghantui masyarakat Indonesia. Angka pasien positif corona terus meningkat sejalan dengan dilakukannya rapid test oleh pemerintah. Banyaknya kasus virus corona, membuat semua tenaga medis harus banting tulang dalam mengatasinya.

Salah satunya dilakukan juga oleh dr Tirta. Seorang dokter muda yang menjadi relawan menghadapi virus corona di Indonesia. Tidak ada yang menduga, sebelumnya dr Tirta sempat vakum sementara dari dunia kesehatan.


Melansir dari akun YouTube Deddy Corbuzier, berikut profil dr. Tirta Mandira Hudhi.

Lulusan Universitas Gadjah Mada

Pria bernama lengkap Tirta Mandira Hudhi merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Dr. Tirta kuliah di Fakultas Kedokteran sejak tahun 2009 dan lulus pada tahun 2013 lalu. Tirta Mandira Hudhi dibesarkan di Karanganyar, Solo, Jawa Tengah.

Ditawari Beasiswa S2

Tidak banyak yang tahu, dr. Tirta Mandira Hudhi pernah ditawari melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 di Belanda dan Jerman. Namun, tawaran dari Profesor Iwan itu harus ditolaknya.

"Karena Prof Iwan itu waktu aku selesai S1 dia mau memberikan beasiswa ke Belanda dan Jerman Lewat Dokter Jarir, aku tolak karena pada waktu itu aku lebih ingin ke IGD, belum siap untuk keluar negeri untuk S2" ucap Tirta dalam video youtube Deddy Corbuzier.

Sempat Dinas di Rumah Sakit UGM dan Puskesmas

Dalam videonya bersama Deddy Corbuzier, pria kelahiran Surakarta, 30 Juli 1991 ini mengaku pernah dinas di Puskesmas Turi dan Rumah Sakit Universitas Gadjah Mada (UGM).

"Saat itu lah aku memutuskan bekerja di Puskesmas Turi Jakal KM 20 itu dekat merapi terus aku pernah kerja di Rumah Sakit UGM " ungkap dokter Tirta.

Mampu Memberi Pekerjaan Orang

Dikatakan sebelumnya, dr. Tirta sempat vakum sementara dari dunia kesehatan. Pria lulusan Fakultas Kedokteran ini memilih menekuni usahanya di bidang cuci sepatu. Bahkan, kini dia sudah berhasil memberikan pekerjaan kepada orang-orang yang membutuhkan. Mulai dari kalangan anak jalanan, anak punk, kuli hingga bekas napi.

"Anak buah ku kan enam puluh persen rata-rata, pegawai 'Shoes and Care' saat itu dari 100, napi, anak putus sekolah, anak jalanan, anak punk, dan kaum marjinal," papar dokter Tirta.

Bisnis Cuci Sepatu
Selama vakum di dunia kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi membuka sebuah usaha jasa cuci sepatu. Dengan ketekunan dan kerja kerasnya selama ini, dr. Tirta kini sudah memiliki cabang usaha di berbagai kota besar Indonesia.

Usaha jasa cuci sepatunya bernama 'Shoes and Care'. Tidak tanggung-tanggung, pelanggan dr. Tira juga banyak dari luar negeri.

Kisah Dr. Tirta yang Menyebabkan Dia Menjadi Relawan Penanganan Virus Corona

Adapun alasannya beliau yang berusaha mati-matian melawan Virus Corona adalah :

Usia 8 tahun gue terinfeksi TBC. Penyakit tbc adalah endemik d indonesia. Kematian dan jumlah kasus di Indonesia sangat tinggi.

Penyebaran airbone disease. Gue. 8 tahun tertular TBC temen gue yg batuk di depan gue.

Gue harus ikut program 6 bulan, trnyata gagal, ditambah ekstra 4 bulan. Baru sembuh. Total 10 bulan.

Penyembuhan. Dan gue diprediksi abis itu divonis jadi orng yg “sakit2 an”.

Paru2 gue gambarannya selalu “flek” sembuh stelah program. Stelah pentembuhan tb, gue kena berbagai macam penyakit pernafasan. Faringitis. Laringitis. Tonsilitis. Bronkitis. Dan sinusitis. Ini sampai SMA.

Tapi itu ga menghalangi prestasi akademik. Gue di sekolah menyabet siswa teladan , di sd, smp, dan sma gue mewakili solo untuk olimpiade matematika. Ketika graduasi, gue penampilan band, tapi gue opnam karena kecapekan. Kena dbd + sinusitis.

Gue memutuskan masuk dokter, selain karena standar tertinggi, gue pengen buktiin, dari sma swasta gue bisa tembus ugm. Gue tembus fakultas kedokteran UGM.

Selain FK UGM, gue ketrima juga jalur prestasi di FK Undip. Gue lepas. Karena gue penasaran dengan Jogja.

Di Jogja gue berkembang. Gue jadi pengusaha, nemuin @shoesandcare, muallaf, dan lulus cumlaude.

Karena skripsi gue kelar di semester 6, dan bagus, Prof iwan dan dr jarir ingin memberi beasiswa gue as peneliti ke belanda. Disinilah peran Prof Iwan bagi gue.

Gue menolak beasiswa , karena gue udah ada @shoesandcare dan gue pengen bergerak di IGD.

Stelah 1.5 tahun koas, gue lulus, gue bekerja di rs ugm dan puskesmas turi. Jadi dokter igd + dokter jaga. Dan nyambi @shoesandcare

Selama ini, gue sakit sebulan sekali. Db 1x tipus 1x , dan akhirnya 2018 gue kena bronkitis kronis.

Gue memutuskan memilih rehat menjadi dokter igd, dan berjuang demi @shoesandcare untuk anak buah gue yg separonya anak jalanan. So. Mulailah gue berjuang as dokter edukasi + pengusaha.

Sedih memang. Tapi kalo gue memaksa praktek + pengusaha, gue akan mati muda haha. Disinilah ketika gue ngajar di fk ugm jadi dosen tamu, gue bertemu lagi dengan prof iwan.

Prof iwan bilang “jadi dokter ga selalu berjuang di belakang jas praktek, bisa di kursi laen, di situ ide kamu akan berguna, ga hanya buat pasien, tapi buat temenmu, tenaga medis, tirta, berjuanglah dengan caramu sendiri”.

Lanjut , Prof Iwan nasehatin “tabunglah uang dr usahamu, berjuang, naekkan derajat tenaga medis, amankan pasien, buat rs ! Siapa tau kamu bisa !”

Gue angguk. Dan gue janji ketika rs gue jadi, gue mau pamer ke beliau.

Singkat crita 1-2 mnggu lalu gue dapet kabar Prof Iwan kena infeksi corona. Disitulah gue mati2 an, gue ga mau liat temen gue , tenaga medis, down, gue berjuang. Beli masker sendiri, cari apd sendiri, dan akhirnya gue di undang BNPB.

Gue akhirnya mengkoordinasi semua sumbangan influencer, membuat program untuk membantu mengurangi rate infeksi covid 19 di JKT dan Indonesia.

Gue ga dikasi biaya, gue pake duit gue sendiri, dan tiba2 @kitabisacom,akhirnya memutuskan bantu gue.

Program gue dan relawan dibantu fatur ex presmaUGM ada :
1. Memasang 1000 disinfection chamber di jkt
2. MembaGI APD bagi temen temen medis di faskes
3. Memberikan nutrisi bagi tenaga medis
4. Edukasi Phbs (hidup bersih sehat) ke rakyat
5. Memastikan Amannya SOCIAL DISTANCING

Gue bergerak, 14-15 jam sehari. Kadang 20 jam. Capek . Tapi gue semangat. Ini sumpah gue.
Dan tiba2 gue denger kabar KaloProf Iwan meninggal.
Gue saat itu lagi wawancara bareng @GENFM_jkt
Gue nangis ketika wawancara. Gue down.
Mood gue brantakan saat itu. Karena beliaulah, yg membuat gue seperti ini.

Akhirnya gue memutuskan , meneruskan legacy beliau. Gue akan bantu sebisa gue. 100/200/300 rs. Mau gue sampe sakitpun , gue ga peduli.Negara ini butuh bantuan.

Jika angka infeksi ga bisa ditekan, indonesia bisa krisis corona sampe juni. Dan ini bahaya. Satu2 nya cara, ya menekan angka infeksi. Disinilah peran relawan.

Covid 19 80% ringan dan 20% fatal. But, sangat mudah menyebar. Dan jujur karena sakit cepatnya, jumlah pasien ga seimbang ama rs nya.

Selama angka infeksi tinggi, gue ga akan brenti berjuang. Makasih @kitabisacom dan @dompetdhuafaorg sampe titik darah penghabisan. Gue akan lawan ini virus.

Ini sumpah dokter. Pekara uang gue dah settle. Toko gue dah puluhan. Bisnis gue banyak. Jika gue kenapa2, tugas gue di dunia pun dah slesai sejatinya.

Ini pekara sumpah yg gue ambil. Dokter. Gue akan jaga kawan2 gue di garda igd. Meski nyawa gue taruhannya. Followers , harta, popularitas, itu sementara. So, itulah alesan gue ngegas. Sampe salah ngmng di ILC kemaren.

Sebelumnya gue mengucapkan belasungkawa kepada @jokowi karena ibunda beliau wafat.

Dan skrng, gue akan berjuang bersama kawan2 gue. Semoga kalian. Ttp membantu dengan ttp dirumah, yg msh kerja, jaga hidup bersih, cuci tangan, dan bantu donasinya. Ini tugas bersama. Bukan tugas negara.

Note: Kisah tersebut didapatkan dari twitter dr tirta @tirta_hudhi

Sumber :
https://www.merdeka.com/trending/profil-dr-tirta-dokter-muda-yang-jadi-relawan-hadapi-virus-corona-di-indonesia.html
https://web.facebook.com/yuli.mustikaningsih/posts/3099816030029008
https://www.suara.com/news/2020/03/26/110052/kena-tbc-dari-kecil-ini-alasan-dr-tirta-mati-matian-jadi-relawan-covid-19






Share This
Previous Post
Next Post

Seorang Blogger yang berusaha memberikan informasi yang terbaik dan valid

0 Comments:

Berkomentarlah dengan bijak!

Bagikan Artikel ini!