Kamis, 02 April 2020

Akurasi Alat Rapid Test COVID-19 Buatan Orang Indonesia Diklaim Capai 92%



Sudah tiga wilayah di dunia yang memberi lisensi izin edar alat rapid testCOVID-19 buatan Santo Purnama, orang Indonesia yang merupakan pendiri Sensing Self, perusahaan yang bergerak dalam bidang penyedia alat medis mandiri berbasis di Singapura. 

Tiga wilayah yang dimaksud adalah India, Amerika Serikat, dan beberapa negara di Eropa. Alat rapid test yang diciptakan Santo dan timnya memungkinkan setiap orang untuk melakukan pengetesan di rumah masing-masing. Hasil uji coba yang dilakukan di India menunjukkan bahwa rapid test virus corona Sensing Self punya tingkat keakuratan mencapai 92 persen, dan hasil bisa keluar dalam waktu 10 menit.


“Jadi kaya gini, dari 100 orang yang dites, 100 orang itu positif, sekitar 92 orang kemungkinan besar memang positif COVID-19. Meski begitu, kalau misalkan ada yang terdeteksi positif, tetap harus dilakukan uji lab dengan alat yang lebih lengkap lagi di rumah sakit,” ujar Santo, saat dihubungi kumparanSAINS, Kamis (2/4). 

Menurut Santo, keunggulan rapid test Sensing Self ciptaannya terletak pada enzim yang terdapat dalam alat tes tersebut. Enzim adalah biomolekul berupa protein yang berfungsi sebagai katalis atau senyawa yang mempercepat proses reaksi dalam suatu proses kimia organik. Dalam rapid test, enzim berperan dalam menentukan hasil tes COVID-19 yang dilakukan seseorang. 

“Teknologi yang kita miliki bukan terletak pada kertasnya, tapi ada di enzimnya. Enzim itu kalau tidak diperhatikan, misalnya waktu ditaruh tidak dijaga suhunya atau segala macam, enzim itu bisa rusak,” ujar Santo, yang kini tinggal di San Francisco, AS, tersebut.

Oleh sebab itu, katanya, banyak rapid test buatan perusahaan lain yang justru memiliki tingkat keakuratan yang sangat rendah. Ini tak lain karena enzim yang mereka buat tidak diperhatikan atau kemungkinan enzimnya sudah rusak. 

Spanyol misalnya, pemerintahnya menyatakan tes cepat dan massal pengambilan sampel darah (rapid test) yang dibeli dari China tak konsisten mengidentifikasi kasus positif virus corona. Mereka mengaku akan mengembalikan kit tersebut ke pabrik.  

Sebagaimana diberitakan Business Insider, pengembalian itu dilakukan setelah ada temuan ahli mikrobiologi soal rapid test kit yang mereka beli dari sebuah perusahaan China, Bioeasy. Mengutip surat kabar Spanyol El PaĆ­s, alat itu hanya memiliki sensitivitas sebesar 30 persen.

Menurut Santo, apa yang terjadi di Spanyol bisa jadi karena perusahaan pembuat rapid test tidak memperhatikan enzim yang mereka pakai, atau penanganan yang buruk saat merancang rapid test.

“Jadi kita, Sensing Self itu benar-benar memerhatikan enzim yang kita bikin, dan kita tahu bagaimana cara penanganan yang bagus. Sehingga akurasinya mendapat pencapaian yang paling tinggi,” ujarnya. 

“Saya akan tekankan, ini yang saya tau dari teman-teman, banyak merek (rapid test) yang beredar dan kita harus sangat hati-hati. Soalnya ini masalah medical, masalah hidup dan mati. Jangan sampai karena beda Rp 10 ribu (harganya), kita beli tapi kualitasnya enggak bener gitu.” 

Hingga saat ini, Santo masih menunggu lisensi izin edar yang dikeluarkan pemerintah Indonesia untuk pendistribusian rapid test Sensing Self. 

“Kami berharap Pemerintah Indonesia bisa memberikan respons positif bagi inisiatif kami untuk membawa alat tes mandiri ini ke Indonesia. Jika setiap orang bisa melakukan tes mandiri, kita bisa meminimalisir risiko infeksi ketika pasien datang ke rumah sakit untuk melakukan tes, serta mengurangi beban tenaga medis yang sudah amat kewalahan,” kata Santo. Kumparan.com




Share This
Previous Post
Next Post

Seorang Blogger yang berusaha memberikan informasi yang terbaik dan valid

0 Comments:

Berkomentarlah dengan bijak!

Bagikan Artikel ini!