Senin, 06 April 2020

Alat Tes Corona Buatan Anak Indonesia Tembus Eropa



Seorang pengusaha dari Indonesia, Santo Purnama, berhasil mengembangkan alat tes mandiri untuk virus corona jenis baru Covid-19 hanya dalam waktu empat bulan. Alatnya ini telah lulus lisensi edar di Eropa, Amerika Serikat, dan India.

Alat ini memungkinkan setiap orang melakukan pengetesan di rumah masing-masing hanya dalam waktu 10 menit. Harganya pun sangat terjangkau, hanya sekitar Rp 160 ribu per unit.

Santo mengembangkan teknologi pengetesan Covid-19 melalui perusahaannya, Sensing Self, yang berbasis di Singapura. Resmi diproduksi sejak Februari, alat rapid test Sensing Self telah mendapatkan lisensi edar dari tiga pasar penting di dunia, yaitu Eropa (mendapatkan sertifikasi CE), India (disetujui oleh National Institute of Virology dan Indian Council of Medical Research), serta Amerika Serikat.

Untuk pasar Amerika Serikat, FDA telah memberikan persetujuan bagi alat tes Sensing Self, dengan syarat penggunaannya harus dilakukan di lembaga medis formal. India, yang memiliki ribuan kasus positif Covid-19, telah memesan alat tes cepat Sensing Self sebanyak tiga juta unit.

Sebagai warga Indonesia, Santo siap membawa alat tes mandiri ini untuk membantu Pemerintah Indonesia menanggulangi pandemi Covid-19. Namun, ia belum mendapatkan persetujuan dari pihak yang berwenang.

"Perang melawan Covid-19 adalah perang melawan waktu. Kita harus menekan laju pertumbuhan pandemik ini dengan melakukan tes seluas mungkin. Oleh karena itu, kami berharap pemerintah Indonesia bisa memberikan respons positif bagi inisiatif kami membawa alat tes mandiri ini ke Indonesia," kata Santo dalam pernyataan tertulis kepada Antara, Jumat (3/4).

"Jika setiap orang bisa melakukan tes mandiri, kita bisa meminimalisasi risiko infeksi ketika pasien datang ke rumah sakit untuk melakukan tes, serta mengurangi beban tenaga medis yang sudah amat kewalahan,” katanya.

Sensing Self masih menunggu persetujuan pemerintah untuk mengedarkan alat ini di Indonesia, dari pengajuan yang disampaikan sejak empat minggu lalu. Sebagai perbandingan, badan farmasi Eropa hanya membutuhkan waktu 2-3 minggu untuk memberikan persetujuan.
India menghabiskan waktu satu minggu untuk melakukan uji coba, validasi, dan persetujuan akhir. Pemerintah India langsung memesan jutaan unit alat tes dua hari setelah lisensi diterbitkan.

Santo mengatakan alat tes Covid-19 dijual dengan harga produksi, sebab ini merupakan misi sosial untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa. “Kami telah mengirimkan alat tes mandiri Sensing Self untuk membantu lembaga-lembaga riset ternama, seperti Mayo Clinic, University of California San Francisco, dan Chan Zuckerberg Biohub. Kami selalu menjaga kualitas produk dan akurasi hasil, karena kami paham bahwa alat ini berhubungan dengan kesehatan seseorang. Pendeteksian dini virus COVID-19 bisa menentukan antara hidup dan mati,” ujar Santo.

Alat tes mandiri Sensing Self bisa memberikan hasil deteksi yang cepat dan akurat karena menggunakan analisis enzim. Dengan harga yang lebih murah, yaitu Rp 160 ribu (10 dolar AS), hasil tes bisa keluar dengan lebih cepat dibandingkan alat tes lain. Salah satu alternatif pengetesan Covid-19 adalah dengan nostril swab, dimana metode ini memakan biaya Rp 1,2 juta sekali tes, dan prosesnya memakan waktu hingga satu jam sehingga kurang efisien.

“Kehadiran alat tes mandiri seperti Sensing Self dapat membantu pemerintah menyediakan akses tes yang lebih aman, praktis, dan terjangkau bagi masyarakat luas. Ketika terdapat pasien positif, mereka dapat langsung melakukan isolasi mandiri ataupun mendapatkan perawatan di rumah sakit."

"Dengan begitu, para tenaga medis bisa benar-benar memfokuskan diri untuk merawat pasien Covid-19 dengan gejala menengah-parah, alih-alih menghabiskan waktu untuk melakukan tes pada ribuan orang,” kata Santo.

Saat ini, Santo dan tim juga sedang mengembangkan solusi lainnya untuk melawan pandemik, yakni tes asam nukleat (nucleic acid test) untuk mendeteksi infeksi Covid-19 sedini mungkin dan dengan harga yang sangat terjangkau. Hasil tesnya diklaim mampu mendeteksi dengan akurasi hingga 99 persen pada hari pertama mereka terpapar virus. Mereka akan segera meluncurkan produk ini saat sudah siap dalam waktu dekat.

Santo Purnama dan Shripal Gandhi merupakan mitra pendiri Sensing Self. Perusahaan ini bergerak dalam pengembangan alat tes kesehatan mandiri, untuk memberdayakan setiap orang agar dapat mendeteksi kesehatannya masing-masing dan mendapatkan pengobatan di tahap sedini mungkin. Santo memiliki latar belakang ilmu komputer dan teknologi dari Purdue University dan Stanford University, sementara Shripal Gandhi merupakan lulusan terbaik jurusan teknik kimia dan biosains dari University of Mumbai dan University of California.

India Beli 3 Juta Alat Rapid Test COVID-19

Sejumlah negara telah memesan alat rapid test virus corona SARS-CoV-2 buatan warga negara Indonesia bernama Santo Purnama, yang mendirikan perusahaan teknologi biosains di Singapura. Alat ini telah mendapat izin edar di Eropa, Amerika Serikat, dan India.
Otoritas India bahkan telah memesan 3 juta unit test kit Sensing Self. Alat tes serologi ini didesain untuk mengambil sampel darah dan mengecek antibodi pengguna terhadap virus corona SARS-CoV-2 penyebab pengakit COVID-19. 

National Institute of Virology dan Indian Council of Medical Research mengotorisasi penggunaan produk di India yang kini memiliki total 3.588 kasus positif COVID-19.

Alat Sensing Self dapat mengeluarkan hasil dalam waktu 10 menit dengan tingkat keakuratan diklaim mencapai 92 persen. Untuk satu unit tes kit dibanderol dengan harga Rp 160.000. 
Dalam hal ini, Sensing Self mengaku tidak mengambil untung sama sekali. Harga jual disamakan dengan ongkos produksi. Penjualannya di tengah wabah COVID-19 murni sebagai misi sosial perusahaan.

“Dulu ketika COVID-19 ini belum pandemi, kami bisa jual 20 sampai 21 USD. Kebanyakan di Eropa. Kami cari untung. Sejak awal kami memang perusahaan yang profitable. Tetapi ketika WHO menyatakan ini pandemi, kami jual dengan harga ongkos produksinya saja. Tidak ada untung. Sekitar Rp 160.000. Ini juga berlaku ke semua negara. Tidak ada untung. Kami ingin membantu,” ujar Santo, saat dihubungi kumparanSAINS.

Sensing Self telah memulai riset sejak akhir 2019 untuk meneliti virus corona SARS-CoV-2. Saat itu, tim ilmuwan Sensing Self yang juga bekerja sama dengan ilmuwan dari Hong Kong dan China, sudah mendapatkan informasi soal penyakit pernapasan misterius di Wuhan, jauh sebelum penyakit ini mewabah lintas negara. 

Pada dasarnya, mekanisme alat tes COVID-19 milik Sensing Self tidak jauh berbeda dengan rapid test kebanyakan. Namun, keunggulan rapid test Sensing Self berada pada enzim yang menjadi bahan baku produk.

“Teknologi yang kita miliki bukan terletak pada kit atau kertasnya, tapi ada di enzimnya. Enzim itu kalau tidak diperhatikan, misalnya waktu ditaruh tidak dijaga suhunya atau segala macam, enzim itu bisa rusak,” jelas Santo.

Enzim adalah biomolekul berupa protein yang berfungsi sebagai katalis atau senyawa yang mempercepat proses reaksi dalam suatu proses kimia organik. Dalam rapid test, enzim turut berperan dalam menentukan keakuratan hasil tes COVID-19.

Seorang pria menggunakan masker di dalam bus yang akan membawanya ke fasilitas karantina antisipasi virus corona di daerah Nizamuddin, New Delhi, India. Foto: REUTERS / Danish Siddiqui

Menurut Santo, alat rapid test bisa memiliki tingkat akurat yang rendah karena enzim yang digunakan tidak diperhatikan kualitasnya, sehingga berpotensi rusak dalam proses pemakaian produk. Hal ini kerap ditemukan pada kebanyakan alat rapid test perusahaan lain.

Spanyol misalnya, pemerintahnya menyatakan tes cepat dan massal pengambilan sampel darah (rapid test) yang dibeli dari China tak konsisten mengidentifikasi kasus positif virus corona. Mereka mengaku akan mengembalikan kit tersebut ke pabrik.  

Sebagaimana diberitakan Business Insider, pengembalian itu dilakukan setelah ada temuan ahli mikrobiologi soal rapid test kit yang mereka beli dari sebuah perusahaan China, Bioeasy. Mengutip surat kabar Spanyol El PaĆ­s, alat itu hanya memiliki sensitivitas sebesar 30 persen. Republika.co.id dan Kumparan.com




Share This
Previous Post
Next Post

Seorang Blogger yang berusaha memberikan informasi yang terbaik dan valid

0 Comments:

Berkomentarlah dengan bijak!

Bagikan Artikel ini!