Sabtu, 18 April 2020

Kurangi Kebutuhan APD, Dosen UGM Kembangkan Bilik Swab COVID-19



Dosen Fakultas Pertanian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Jaka Widada, berhasil mengembangkan Bilik Swab untuk memeriksa pasien terduga virus corona COVID-19 yang memudahkan para tenaga medis. Dengan bilik tersebut tenaga medis tidak perlu lagi menggunakan alat pelindung diri (APD).

Jaka mengatakan dirinya terinspirasi dari gambar dan video di Korea Selatan yang beredar, yang menggambarkan tenaga kesehatan sedang melakukan swab di bilik untuk memeriksa pasien. Dia juga berdiskusi dengan istrinya, dokter spesialis THT Camelia Hardini yang terbiasa melakukan swab untuk memeriksa pasiennya.


“Dan kebetulan backgroud saya mikro biologi, sedikit banyak tahu tentang ruangan yang bebas dari kuman. Jadi dengan bilik swab, tidak perlu APD,” ujar dia saat dihubungi, Kamis, 16 April 2020.

Bilik yang dibuat ayah dari empat orang anak itu berukuran 90x90 cm2 dengan tinggi 2 meter. Pintu terletak di belakang, dan bagian depan memakai kaca dengan dua lubang untuk tangan petugas medis memeriksa pasien. Sementara dari bodi, bilik itu terbuat dari alumunium panel composit yang sering digunakan di bangunan.

Idealnya, lulusan S3 University of Tokyo, Jepang, itu menambahkan, bodi menggunakan stainless steel, tapi terkendala harga mahal, sementara kayu tidak memungkinkan, dan bahan GRC Board tidak cocok jika dibersihkan dengan disinfektan. “Semua bahannya itu perhitungannya termurah dan berstandar medis,” ujarnya.

Jaka yang menekuni bidang keahlian bioteknologi lingkungan itu juga melengkapi bilik dengan lampu pencahayaan di bagian dalam dan lampu untuk swab, dan blower yang disaring dengan hepa filter—yang biasa digunakan untuk membuat ruangan bersih dan steril seperti di lab.

Selain itu, Jaka juga melengkapi amplifier sederhana lengkap dengan speakernya untuk berkomunikasi dengan pasien. Sarung tangan panjang yang dipasang pun sudah berstandar medis dan dilapisi dengan handscoon yang sekali pakai.

“Penggunaannya, tenaga medis melakukan swab, kemudian handscoon itu hanya sekali pakai lalu dibuang ke tempat sampah medis, dan sarung tangan panjang dibersihkan dengan disinfektan,” tutur Jaka. “Karena yang harus diperhatikan itu keamanan tenaga medis dan pasien, dua-duanya harus aman.”

Jaka menyebutkan, secara keseluruhan biaya produksi untuk pembuatan bilik swab tersebut sekitar antara Rp 7,5 juta-8 jutaan. Dia juga menggandeng usaha kecil menengah untuk memproduksi bilik itu. “Terakhir itu Gugus Tugas COVID-19 nasional, sudah bilang punya niat untuk memproduksi secara masal,” kata dia. “Sekarang kami bisa memproduksinya 10-15 unit per minggu berstandar medis.” Tempo.co




Share This
Previous Post
Next Post

Seorang Blogger yang berusaha memberikan informasi yang terbaik dan valid

0 Comments:

Berkomentarlah dengan bijak!

Bagikan Artikel ini!